Rabu, 31 Agustus 2011

Idul Fitri Kembali Kepada Tauhid

Oleh: KH Abdullah Gymnastiar
eramuslim.com:Idul fitri memiliki makna kembali kepada kesucian atau kembali kepada asal kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, berarti suci. Rasulullah saw menggambarkan kesucian manusia itu dari sejak dilahirkannya. Rasulullah saw bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang akan menjadikan ia sebagai yahudi atau nasrani.” (HR. Bukhari)


Allah SWT berfirman, yang artinya:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. al-Rum [30] : 30)

Menurut sebagian mufasir, kata ‘fitrah Allah’ berarti kecenderungan dan kesediaan manusia terhadap agama yang haq. Sebab, fitrah manusia diciptakan Allah SWT untuk cenderung pada tauhid dan din Islam, sehingga manusia tidak bisa menolak dan mengingkarinya.

Sebagian mufassir lainnya seperti Mujahid, Qatadah, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Ibnu Syihab memaknainya dengan Islam dan Tauhid. Ditafsirkannya fitrah dengan Islam karena untuk fitrah itulah manusia diciptakan. Telah ditegaskan bahwa jin dan manusia diciptakan Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya (QS adz-Dzariyat [51]: 56). Jika dicermati, kedua makna tersebut tampak saling melengkapi.

Hari Idul Fitri berarti mengingatkan kita atas hakikat hidup yang mesti senantiasa bertauhid. Tauhid inilah modal utama kehidupan kita. Stress dan depresi itu terjadi karena kita kurang tauhidnya, karena segala persoalan yang ada sebenarnya sudah diukur oleh Allah SWT dengan demikian cermatnya. Kesengsaraan kita dalam menjalani setiap masalah didunia ini bukanlah karena hal itu terlalu sulit untuk diselesaikan, tetapi karena kita salah dalam ‘menjawab’ atau menyikapi permasalahan itu.

Sebenarnya, kunci dari setiap permasalahan yang ada adalah tauhid. Tauhid akan membuat seseorang mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang ada, membuatnya bermartabat, berakhlak mulia, dan tidak lagi bergantung dan takut kepada selain Allah.

Rasulullah saw bersabda bahwa tujuan utamanya diutus di atas muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak yang mulia sesungguhnya adalah efek dari tauhid yang bagus. Tauhid yang membuat seseorang merasa selalu ditatap oleh Allah, dilihat oleh Allah, sehingga sadar bahwa tidak ada yang luput dan lalai dari pengawasan Allah. Dia bisa menjaga lisannya karena selalu merasa didengar oleh Allah, dan selalu merasa hatinya diawasi oleh Allah sehingga setiap lintasan hati terpelihara dari hal-hal yang tidak disukai Allah.

Orang yang bertauhid bagus memiliki banyak ciri-ciri, diantaranya :

Bersifat ikhlas

Ikhlas merupakan perilaku yang sangat bergantung dengan kekuatan tauhid, karena melakukan sesuatu tanpa tujuan lain selain lillahi ta’ala. Artinya, orang yang ikhlas pastilah mengenal Allah dengan baik dan tidak bertujuan yang lain selain Allah.

Tidak licik

Ia tidak mungkin berbuat licik dalam kegiatan apa pun karena ia meyakini bahwa Allah lah yang akan membalas setiap perbuatan sekecil apa pun, dan meyakini Allah-lah yang membolak-balik hati dan mengetahui setiap lintasan hati.

Tidak dengki

Orang yang memiliki tauhid yang baik tidak mendengki dengan nikmat yang diberikan Allah kepada yang lainnya karena mengetahui Allah Maha Bijaksana dan Adil dalam membagikan rezeki dan menentukan setiap takdir kejadian, sehingga tidak perlu merasa dengki atau iri pada orang lain.

Tidak banyak mengeluh

Orang yang bertauhid kuat tidak banyak mengeluh karena mengetahui setiap peristiwa dan episode hidup adalah ijin dari Allah SWT. Apabila terdapat takdir masalah ia justru segera memeriksa tauhidnya, apakah selama itu ada sandaran lain selain Allah dan bermaksiat kepada Allah.

Tidak mengharap selain dari Allah

Ciri lain yang penting orang yang kuat tauhidnya adalah selalu hanya mengharap ridha Allah. Orang-orang ini tidak menjilat, cari muka, ataupun cari perhatian pada orang lain, karena mengetahui manusia hanyalah sebagai jalan, namun hakikatnya semua dari Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOMITMEN MUSLIM SEJATI – FATHY YAKAN Komitmen Muslim Sejati karya Fathi Yakan ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama memaparkan ...