.jpg)
“Tutur kata yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Sebuah rekaman shohih seorang
manusia pilihan ALLAH..
Saudaraku…
Kali ini, izinkanlah
kumenuliskan tentang sepotong daging merah yang lembut dan lentur, namun juga
kusut dan berlumpur. Tentang pemberian indah dari ALLAH, namun juga penuh resah
bila tak dipelihara. Ya, tentang sepotong daging merah ini, lembaran super kritis
yang dimiliki tiap-tiap makhluk. Yang dimiliki tiap manusia, makhluk lemah yang
kadang lupa berhati-hati menjaganya.
Saudaraku, ketahuilah, bahwa jembatan paling efektif menuju titik dasar
hati adalah lembaran daging merah itu. Daging merah yang panjang dan tak
berkayu. Ialah lidah, lembaran merah muda tempat bersemayam sepucuk akhlak
bernama lisan.
Ialah lidah, daging merah sang jendela hati, jendela keadaan diri. Daging
merah yang jalang. Bolehlah kusebut begitu bila ia tak dipelihara pemiliknya.
Kebengisan dan kebuasan satu bagian tubuh penapak hidup, sudah lebih dari kuat
‘tuk menandingi kekuatan belati bercula dua. Tidak ada yang dapat lari dari
kebengisannya. Tidak ada pula yang tak sakit karena kebuasannya. Ia terus
mencari mangsa ‘tuk disayat-sayat dan dicaci maki. Ia terus mencari
daging-daging lain ‘tuk berkolaborasi melukai darah beku bernama hati.
Duhai Saudaraku, kita semua adalah kandidat mayat, yang takkan pernah
mampu menarik lontaran sindiran dan hinaan. Kita semua adalah calon penghuni
kubur, yang takkan pernah mampu memutar waktu mengobati hati yang terluka
karena kita.
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum
yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari
mereka (yang mengolok-olokan)…” (Q.S. al-Hujurat: 11).
Duh, betapa manisnya hidup bila lidah mampu “dewasa”. Betapa sejuk
pandangan umat bila kata-kata manis tertuturkan. Duhai, andai lidah ini
bertulang dan melelahkan, takkan ada hati yang terluka karena pedang lembut ini.
Saudaraku yang kucintai karena ALLAH, mungkin kadang kita lupa, bahwa
banyak manusia yang hanya mampu berkata manis & menjanjikan, namun tak
sedikitpun muncul wujud nyata dr ucapannya. Banyak yang mampu berkoar-koar
dengan hebat, menilai dengan lihai, namun tak sedikitpun ia pandang keadaan
dirinya. Banyak yang mampu marah-marah buta, namun tak pernah sedikitpun
dicobanya menjadi pendengar yang baik..
Apa yang ditemui selalu dicacati, dikomentari bertubi-tubi, bahkan semut
pun risih karenanya. Apa yang didengar selalu ditularkan, disebarkan tak kenal
telinga, melukai hati yang digunjingkan. Seakan-akan tak ada waktu jika daging
merah itu tak menari. Seandainya lidah ini bisa “bicara”, niscaya ia akan
mengeluh, “Ya Tuanku, aku lelah terus menggeliat-geliat.”
Bolehlah kita simak teguran indah dari sang manusia agung:
“Taqwa itu berada berada di
sini, beliau (Rasululloh) menunjuk dadanya tiga kali. Cukuplah seorang (muslim)
dianggap (melakukan) kejahatan karena melecehkan saudara muslimnya. Setiap
muslim atas muslim yang lain haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (HR.
Muslim)
Aih, indah sekali. Beliau menunjuk dadanya tiga kali. Pertanda betapa
beliau sangat peduli. Salah satu bentuk peduli yang beliau ajarkan adalah
mengendalikan amunisi paling ampuh untuk membunuh hati manusia, yakni lembaran
daging merah itu.
Tak perlulah kuceritakan betapa banyak contoh kegagalan hidup karena
ketidakhati-hatian sang pemilik lidah mengoperasikan pemberian indah dari
ALLAH. Betapa banyak manusia yang dipenjara karena lidahnya, yang dikucilkan
karena lidahnya, dan yang dibunuh karena lidahnya pula. Memang, tanpa lidah tak
ada yang bisa kita katakan, tapi karena kecerobohan kita, satu umat pun bisa
membenci kita jika lidah ini tidak berhati-hati.
Duhai..
Bila belum kita bercermin,
alangkah manisnya jika kita tidak mencela yang lain. Bila belum sanggup kita
dicaci, alangkah indahnya jika kita tidak memaki. Bila belum mampu menepati
janji, alangkah baiknya bila kita berhenti berkoar-koar. Percayalah, akhiy wa
ukhtiy, tidak ada ruginya menjaga daging merah muda ini. Insya ALLAH..
Bila kau tanya apa yang paling mengerikan dan mematikan di dunia ini. Bila
kau tanya pedang apa yang paling tajam dan mampu menggorok apapun sekali tebas.
Izinkanku mengingatkan ana pribadi, engkau, dan saudara seakidah. Ialah lidah,
sepotong daging merah yang meninggali mulut tiap-tiap makhluk tak bersyukur..
Semoga ALLAH senantiasa memberi petunjuk-Nya pada kita. Aamiin..
Wassalaamu’alaykum warohmatulloh wabarokaatuh.
“Muslim yang terbaik adalah muslim yang membuat muslim lainnya selamat
(merasa aman) dari gangguan lisan dan tangannya. (HR. Bukhari)
Maafkan aku bila ada hati yang tersakiti olehku
“ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Q.S. ‘Ali Imran: 159)
Sumber: fb_MZF