Kamis, 13 Februari 2014

Masalah, Ia Bukan Sekedar Ujian

Dalam kehidupan kita ini pasti ada saja masalah yang harus dihadapi. “Entahlah itu apa masalahnya dan bagaimana?” Yang perlu kita sadari, Tanpa kita minta pun masalah itu akan selalu hadir dalam setiap kehidupan kita, ia merupakan ujian untuk meneguhkan keimanan kita, mengetes kesiapan fisik dan mental kita, mengokohkan sikap dan kepribadian kita serta menguji kesabaran serta rasa syukur yang terpatri dalam diri kita.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al Hadid: 22)
Setiap orang pasti punya masalah. Orang yang bermasalah, ia pasti memiliki masa-masa sulit selama dalam hidupnya. Masa-masa indah perjuangan yang harus kita sikapi, hadapi, dan kita cari penyelesaiannya dengan tetap semangat, gigih, optimis, istiqamah, dan sabar.
Sikap-sikap seperti inilah yang seharusnya terus muncul dan harus diperjuangkan dalam menyelesaikan setiap masalah demi masalah ketika masalah itu hadir dalam kehidupan Ummat Muslim. Yaitu kembali kepada Allah SWT dengan berbekal petunjuk kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya yaitu, Al Qur’an dan kepada sebaik-baik petunjuk yaitu, Sunnah Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itulah maka sudah seharusnya kita untuk mengembalikan semua perkara masalah yang kita hadapi kepada tuntunan keduanya.

Sakit dalam Pandangan Islam

NAMANYA juga manusia, tentu suatu waktu kita akan mengalami penurunan kondisi fisik. Penurunan itu menyebabkan kita sakit. Bagaimana Islam memandangnya soal sakitnya tubuh kita ini?
Saat Allah menakdirkan kita untuk sakit, pasti ada alasan tertentu yang menjadi penyebab itu semua. Tidak mungkin Allah subhanahu wa ta’ala melakukan sesuatu tanpa sebab yang mendahuluinya atau tanpa hikmah di balik semua itu. Allah pasti menyimpan hikmah di balik setiap sakit yang kita alami. Karenanya, tidak layak bagi kita untuk banyak mengeluh, menggerutu, apalagi su’udzhan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Lebih parah lagi, kita sampai mengutuk taqdir. Na’udzu billah
Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam  pernah menemui Ummu As-Saa’ib, beliau bertanya : ”Kenapa engkau menggigil seperti ini wahai Ummu As-Saa’ib?” Wanita itu menjawab : “Karena demam wahai Rasulullah, sungguh tidak ada barakahnya sama sekali.” Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam  bersabda : ”Jangan engkau mengecam penyakit demam. Karena penyakit itu bisa menghapuskan dosa-dosa manusia seperti proses pembakaran menghilangkan noda pada besi”. (HR. Muslim)

SEJARAH VALENTINE DAY , MAKSIAT BERBUNGKUS KASIH SAYANG

Oleh : Hj. Irena Handono

Meski nasihat-nasihat, imbauan-imbauan para ulama, ustadz-ustadzah tentang Valentine selalu didengungkan tiap bulan Pebruari, tapi ternyata masih banyak orang tua para remaja yang masih berpemahaman salah tentang Valentine’s Day. Valentine hanya dianggap sebagai budaya remaja modern saja. Padahal ada bahaya besar di balik Valentine yang siap menerkam para remaja. Ini yang tidak disadari para orang tua.

Tiap bulan Pebruari remaja yang notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau banyak ustad-ustazah memperingatkan nilai-nilai akidah Kristen yang dikandung dalam peringatan tersebut, namun hal itu tidak terlalu dipusingkan mereka. "Aku ngerayain Valentine kan buat fun-fun aja...." begitu kata mereka.

Selasa, 11 Februari 2014

In Sya’a Allah, Bukan Insya Allah

Hal yang hendaknya disyukuri, banyak sekali ungkapan Islam yang sudah menjadi budaya dalam ucapan dan perbuatan umat Islam Indonesia. Di antara ungkapan yang sudah lumrah adalah kata “in sya’a Allah”.
Ungkapan ini terdiri 3 kata: in, sya’a, dan Allah. In artinya jika, dan sya’a artinya berkehendak. Sehingga maksudnya adalah untuk menggantungkan rencana, bahwa rencana melakukan sesuatu hanya akan terlaksana jika sesuai dengan kehendak Allah swt. Hal yang sama juga terkandung dalam ungkapan bi idznillah yang artinya “jika Allah swt. menghendakinya”, bukan “jika Allah swt. membolehkannya, mengijinkannya,” karena boleh-tidaknya sesuatu sudah jelas dalam hukum Islam, bukan sesuatu yang misterius.

Imam Hasan Al-Banna, Ustadzul Alam, dalam Cita Petani

Telah sering dikatakan bahwa Rasulullah adalah seorang penggembala yang baik, pedagang yang baik, kepala keluarga yang baik, panglima perang yang baik dan pemimpin negara yang baik. Namun satu hal yang mengganjal bagi para petani ketika disebutkan bahwa Rasulullah bukanlah petani yang baik.
Pandangan demikian bisa jadi berangkat dari sebuah kisah tentang Rasulullah dan penyerbukan kurma. Tetapi dari kejadian tersebut terpetik sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kemaslahatan umat manusia. Dari ungkapan “Engkau lebih mengetahui urusan duniamu,” terlahir kaidah yang menempatkan dengan proporsional kerasulan Beliau Shalallahu alaihi wassalam dengan tugas kekhalifahan yang diemban umat manusia dalam upayanya memakmurkan bumi.

Berjuanglah untuk Islam Walau Anda Pelaku Maksiat

 Apa yang kau anggap atas dirimu sendiri? Begitu banyakkah dosa dan noda? Ketahuilah, setiap manusia –siapa pun dia- juga memiliki kesalahan, dan sebaik-baik manusia yang membuat kesalahan adalah yang mau bertaubat. Mari jadilah yang terbaik…
Saudaraku …
Apa yang menghalangimu membela agamamu? Apa yang merintangimu beramal demi kejayaan Islam dan kaum muslimin? Dosa, noda, dan maksiat itu? Ketahuilah, jika kau diam saja, tidak beramal karena merasa belum pantas berjuang, masih jauh dari sempurna, maka daftar noda dan maksiat itu semakin bertambah. Itulah tipu daya setan atas anak Adam, mereka menghalangi manusia dari berjuang dan hidup bersama para pejuang, dengan menciptakan keraguan di dalam hati manusia dengan menjadikan dosa-dosanya sebagai alasan.
Saudaraku …
Hilangkan keraguanmu, karena Rabbmu yang Maha Pengampun telah berfirman:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukan. (QS. Hud: 114)

KOMITMEN MUSLIM SEJATI – FATHY YAKAN Komitmen Muslim Sejati karya Fathi Yakan ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama memaparkan ...